Pelangi Tetaplah Sebuah Pelangi
(Surat Terbuka Buat Para Sahabatku)
Sejak awal ku tau ia adalah pelangi, yang muncul sesaat kemudian menghilang. Selalu saja begitu, tapi tetap saja aku menunggunya.
Sampai suatu malam sebuah bintang menyapa. Mengajak aku bemain dan tertawa. Maka lupalah aku pada pelangi. Bahkan tak kulihat mendung yang bergelanyut di awan. Hingga hujan deras membasahiku dan lenyaplah bintang.
Tapi kemudian pelangi muncul kembali. Membiusku dengan warna-warninya bahkan lebih, aku mabuk dalam pesonanya. Kuberkhayal, Ia menjadi matahari yang akan selalu menghangati siangku atau bulan yang akan selalu menerangi malamku.
Tapi Pelangi Tetaplah Sebuah Pelangi.
Yang muncul sesaat setelah hujan reda. Yang membius aku dengan pesona warna-warninya. Kemudian menghilang. Menyisakan dingin yang menusuk sampai ketulang.
Tak ada yang tau kemana ia pergi, atau kapan ia kembali. Tidak aku, tidak juga kau.
Lelah sudah, tak ingin lagi ku menunggunya.
Maka kembali ku menjadi angin, lihat….aku mulai membumbung. __________________________________________________________________________________
Catatan:
Buat sahabats-ku, jika suatu hari nanti aku bertemu denganmu jangan pernah kau tanyakan lagi dimana sang pelangi karena aku tak pernah melihatnya lagi sejak akhir November 2005. Dan sejak 14 February lalu, PA telah mengizinkan aku untuk meninggalkannya. Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan doa kalian di saat pernikahanku. Sekali lagi maafkan aku…
Dan buat sang mentari, terima kasih telah mensupport aku dengan energimu hingga aku dapat melewati masa-masa sulit itu, khususnya di persidangan kemarin dan semoga dua mentari kecilmu bisa bersinar sepertimu.
